Rabu, 08 Februari 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN APP


TUGAS KMB 1
ASUHAN KEPERAWATAN  PADA PASIEN DENGAN APP
index.jpg
OLEH :
KELOMPOK 3
·     AGUSTINA  SRI KUSUMASTUTI  (2120101805)
·     I DEWA AYU INTAN PRATIWI     (2120101821)
·     MURNI RATNASARI                     (2120101832)
·     TIYAS RIWAYATI NINGSIH        (2120101845)
·     YUNIARTI                                    (2120101856)

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO YOGYAKARTA
2011
APENDICITIS

A.  Pengertian.
               Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (94 inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil, appendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi.
               Appendiks merupakan peradangan pada appendiks (umbai cacing). Kira-kira 7% populasi akan mengalami appendiks  pada waktu yang bersamaan dalam hidup mereka. Pria lebih cenderung terkena appendiks dibanding wanita. Appendiks lebih sering menyerang pada usia 10 sampai 30 tahun.
               Appendiks perforasi adalah merupakan komplikasi utama dari appendiks, dimana appendiks telah pecah sehingga isis appendiks keluar menuju rongga peinium yang dapat menyebabkan peritonitis atau abses.
               Appendiktomi adalah pengangkatan terhadap appendiks terimplamasi dengan prosedur atau pendekatan endoskopi.

B.  Etiologi.
      - Penyebab belum pasti
      - Faktor yang berpengaruh :
·         Obstruksi : hiperplasi kelenjar getah bening (60%), fecalt (massa keras dari feses) 35%, corpus alienum (4%), striktur lumen (1%).
·         Infeksi : E.Coli dan steptococcus.
·         Tumor

C.    Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebaban oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan penekanan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apediks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.



Pathway.
Apendiks

Hiperplasi folikel      Benda asing      Erosi mukosa      Fekalit       Striktur        Tumor
        limfoid                                             apendiks





























 



Obstruksi

Mukosa terbendung

Apendiks teregang

Nyeri
 
Tekanan intraluminal
                                                                       
Aliran darah terganggu

Ulserasi dan invasi bakteri
Pada dinding apendiks

Apendicitis
 

ke peritonium                                                                   trombosis pd vena intramural

   peritonitis                                                                        pembengkakan dan iskemia

                                                                                                           perforasi


Cemas
 
 

pembedahan operasi


PK Perdarahan
 
 

luka insisi


 


Defisit Self
Care
 
Nyeri
Akut
 
                                                                       
                                                                                    jalan masuk kuman








Resiko infeksi
 
 





D.  Manifestasi Klinik
1.      Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.
2.      Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan.
3.      Nyeri tekan lepas dijumpai.
4.      Terdapat konstipasi atau diare.
5.      Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar di belakang sekum.
6.      Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rektal.
7.      Nyeri kemuh, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter.
8.      Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis.
9.      Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan.
10.  Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai abdomen terjadi akibat ileus paralitik.
11.  Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks.

E.     Komplikasi
Apendisitis adalah penyakit yang jarang mereda dengan spontan, tetapi penyakit ini tidak dapat diramalkan dan mempunyai kecendrungan menjadi progresif dan mengalami perforasi. Karena perforasi jarang terjadi dalam 8 jam pertama, observasi aman untuk dilakukan dalam masa tersebut.
Tanda-tanda perforasi meliputi meningkatkan nyeri, spasme otot dinding perut kuadran kanan bawah dengan tanda peritonotis umum atau abses yang terlokalisasi, ileus, demam, malise, dan leukositosis semakin jelas. Bila perforasi dengan peritonitis umum aatu pembentukan abses telah terjadi sejak pasien pertama kali datang, diagnosis dapat ditegakkan dengan pasti.
Bila terjadi peritonitis umum terapi spesifik yang dilakukan adalah operasi untuk menutup asal perforasi. Sedangkan tindakan lain sebagai penunjang : tirah baring dalam posisi fowler medium (setengah duduk), pemasangan NGT, puasa, koreksi cairan dan elektrolit, pemberian penenang, pemberian antibiotik berspektrum luas dilanjutkan dengan pemberian antibiotik yang sesuai dengan hasil kultur, transfusi untuk mengatasi anemia, dan penanganan syok septik secara intensif, bila ada.
Bila terbentukabses apendiks akan teraba massa di kuadrankanan bawah yang cenderung menggelembung ke arah rektum atau vagina. Terapi dini dapat diberikan kombinasi antibiotik (misalnya ampisilin, gentamisin, metronidazole, atau klindamisin). Dengan sediaan ini abses akan segera menghilang, dan apendiktomi dapat dilakukan 6 – 12 minggu kemudian. Pada abses yang tetap progresif harus segera dilakukan drainase. Abses daerah pelvis yang menonjol ke arah rektum atau vagina dengan fluktuasi positif juga perlu dibuatkan drainase.
Tomboflebitis supuratif dari sistem portal jarang terjadi tetapi merupakan komplikasi yang letal. Hal ini harus kita curigai bila ditemukan demam sepsis, menggigil, hepatomegali, dan ikterus setelah terjadi perforasi apendiks. Pada keadaan ini diindikasikan pemberian antibiotik kombinasi dengan drainase. Komplikasi lain yang dapat terjadi berupa abses subfrenikus dan fokal sepsis intraabdominal lain. Obstruksi intestinal juga dapat terjadi akibat perlengketan.
F.     Pemeriksaan Penunjang
      a.   Laboratorium
§  Hb normal
§  Leukosit normal atau meningkat (bila lanjut umumnya leukositosis, >10,000/mm3)
§  Hitung jenis : segmen lebih banyak
§  LED meningkat (pada appendicitis infiltrate)
b.   Rotgen : appendicogram
Hasil positif berupa :
§  Non-filling
§  Partial filling
§  Mouse tail
§  Cut off
Rontgen abdomen tidak menolong kecuali telah terjadi peritonitis.
G.    Penatalaksanaan
1.      Sebelum operasi
a.   Observasi
Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala apendisitis seringkali masih belum jelas. Dalam keadaan ini observasi ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan. Laksatif tidak boleh diberikan bila dicurigai adanya apendisitis ataupun bentuk peritonitis lainnya. Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah (leukosit dan hitung jenis) diulang secara periodik. Foto abdomen dan thoraks tegak dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Pada kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan denagn lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.
b.      Intubasi bila perlu
c.       Antibiotik
2.      Operasi apendiktomi
3.      Pasca operasi
Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam, syok, hipertermia, atau gangguan pernapasan. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posisi fowler. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus kembali normal. Kemudian berikan minum mulai 15 ml/jam selam 4-5 jam lalu naikkan menjasi 30 ml/jam. Keesokan harinya diberikan diberikan makanan saring, dan hari berikutnya diberikan makanan lunak. Satu hari pascaoperasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selam 2x30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar. Hari ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.
4.      Penatalaksanaan gawat darurat non-operasi
Bila tidak ada fasilitas bedah, berikan penatalaksanaan seperti dalam perotonitis akut. Dengan demikian, gejala apendisitis akut akan mereda, dan kemungkinan terjadinya komplikasi akan berkurang.
H.    Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
Preoperasi :
1.   Cemas berhubungan dengan tindakan operasi.
Postoperasi :
2.      Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (insisi pembedahan).

oksigenasi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Oksigen dibutuhkan untuk mempertahankan kehidupan. Perawat sering kali menemukan klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigennya. Fungsi sistem pernafasan dan jantung adalah menyuplai kebutuhan oksigen tubuh.
Fisiologi jantung mencakup pengaliran darah yang membawa oksigen dari sirkulasi paru ke sisi kiri jantung. Dan jaringan serta mengalirkan darah yang tidak mengandung oksigen ke system pulmonary. Fisiologi pernapasan meliputi oksigenasi tubuh melalui mekanisme ventilasi, perpusi, dan transport gas pernapasan. Pengaturan saraf dan kimiawi mengontor fluktuasi dalam frekuensi dan kedalaman pernapasan untuk memenuhi perubahan kebutuhan oksigen jaringan.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimana fisiologi kardiovasikuler dan pernafasan ?
1.2.2. Bagaimanakah pendekatan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen?
1.2.3. Apasaja faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi?
1.2.4. Bagaimana perubahan fungsi pernafasan?
1.2.5. Bagaimana proses keperawatan oksigenasi?

1.3  Tujuan
Tujuan yang kami dapatkan dari pembuatan paper ini  adalah untuk mengetahui  fisiologi kardiovaskuler dan pernapasan, pendekatan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen (ventilasi, difusi, transportasi dan respirasi dalam sel), faktor yang mempengaruhi oksigenasi, perubahan fungsi pernapasan dan Proses keperawatan oksigenasi.

1.4  Manfaat
Setelah kita membahas tentang pemenuhan kebutuhan oksigenasi maka didapat manfaat yaitu kita dapat mengetahui fisiologi kardiovaskuler dan pernapasan, pendekatan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen (ventilasi, difusi, transportasi dan respirasi dalam sel), faktor yang mempengaruhi oksigenasi, perubahan fungsi pernapasan dan Proses keperawatan oksigenasi.
BAB II
PEMBAHASAN



2.1 Fisiologi Kardiovasikuler & Pernafasan
a.       Fisiologi kardiovasikuler
Fungsi system jantung ialah mengantarkan oksigen, nutrient, dan substansi lain ke jaringan dan membuang produk sisa metabolism selular melalui pompa jantung, system vascular sirkulasi, dan integrasi system lainnya. (McCance dan Huether,1994)
·        Struktur dan Fungsi
Ventrikel kanan memompa darah melalui sirkulasi pulmonar, sedangkam ventrikel kiri memompa darah ke sirkulasi sistemik yang menyediakan oksigen dan nutrein ke jaringan dan membuang sampah dari tubuh.
1.      Pompa Miokard, sangat penting untuk mempertahankan aliran oksigen.
2.      Aliran darah miokard, untuk mempertahankan aliran darah ke sirkulasi pulmonar dan sirkulasi sistemik, maka aliran darah miokard harus menyuplai oksigen dan nutrein yang cukup untuk miokardium.
3.      Sirkulasi arteri korner, merupakan cabang sirkulasi sistemik yang menyuplai oksigen dan nutrein ke miokardium dan membuang sampah dari miokardium.
4.      Sirkulasi Sistemik, arteri dan vena sistem sistemik mengantarkan nutrein dan oksigen ke jaringan dan membuang sampah dari jaringan.
5.      Pengaturan aliran darah, jumlah darah yang keluar dari ventrikel setiap menit disebut curah jantung. Curah jantung normal adalah 4 sampai 6 liter per menit pada orang dewasa yang sehat dengan berat 70 kg saat beristirahat. Volume darah yang bersirkulasi berubah sesuai kebutuhan oksigen dan metabolik tubuh.

·        Sistem Konduksi
Sistem konduksi jantung menggerakan potensi kerja yang dibutuhkan yang mengonduksi impuls yang dibutuhkan untuk memulai rangkaian peristiwa listrik, yang menghasilkan denyut jantung. Sistem konduksi berasal dari nodus sinoatrial (SA), yang terdapat di atrium kanan di sebelah pintu masuk vena kava superior.

b.      Fisiologi pernafasan
Pernapasan adalah upaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan membuat paru-paru berkontraksi. Sabagian besar sel dalam tubuh memperoleh energi dari reaksi kimia yang melibatkan oksigen dan pembuangan karbondioksida. Pertukaran gas pernapasan terjadi antara udara d lingkungan dan darah. Kerja pernapasan ditentukan oleh tingkat kompliansi paru, tahanan jalan napas, keberadaan ekspirasi yang aktif, dan penggunaan obat-obatan bantu pernapasan.
·        Struktur dan Fungsi
Pernapasan dapat berubah karena kondisi atau penyakit yang mengubah struktur dan fungsi paru. Otot-otot pernapasan, ruang pleura, dan alveoli sangat penting untuk ventilasi, perfusi, dan pertukaran gas pernapasan.

2.2 Pendekatan Keperawatan dalam  Pemenuhan Kebutuhan Oksigen
Terdapat tiga langkah dalam proses oksigenasi, yaitu :
·        Ventilasi
Merupakan proses untuk menggerakkan gas ke dalam dan keluar pari-paru. Ventilasi membutuhkan koordinasi otot paru dan thoraks yang elastis dan pernapasan yang utuh.
·        Perfusi
Fungsi utama sirkulasi paru adalah mengalirkan darah ke dan dari membran kapiler alveoli sehingga dapat berlangsung pertukaran gas. Sirkulasi pulmonar merupakan suatu reservoar untuk darah sehingga paru dapat meningkatkan volume darahnya tanpa peningkatan tekanan dalam arteri atau vena yang besar. Selain itu sirkulasi pulmonar juga berfungsi sebagai suatu filter, yang menyaring trombus kecil sebelum trombus tersebut mencapai organ-organ vital.
·        Pertukaran Gas Pernapasan
Tujuan utama pengaturan pernapasan adalah mensuplai kebutuhan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Pernapasan dikendalikan oleh pengaturan saraf dan kimiawi. Pengaturan saraf melibatkan sistem saraf pusat, pengontrolan frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan. Pengaturan kimiawi melibatkan kerja zat-zat kimia, seperti ion karbon dioksida dan ion hidrogen dengan kecepatan dan kedalaman pernapasan.


2.3 Faktor yang mempengaruhi oksigenasi
keadekuatan sirkulasi, ventilasi, perfusi, transport gas-gas pernapasan jaringan dipengaruhi oleh empat tipe faktor yaitu : fisiologis perkembangan prilaku lingkungan.
a.       faktor fisiologis
setiap kondisi yang mempengaruhi fungsi kardiopurmonar secara langsung dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memenuhi kebutuhan oksigen. Klasifikasi umum gangguan jantung meliputi ketidakseimbangan konduksi, kerusakan fungsi valvular, hipoksiamiokard, kondisi-kondisi kaerdiomiopati, dan hipoksia jaringan perifer. Gangguan pernafasan meliputi hiperventilasi, hivopentilasi, dan hipoksia.
Proses fisiologis lain yang mempengaruhi proses oksigenasi pada klien termasuk perubahan yang mempengaruhi kapasitas darah untuk membawa oksigen, seperti anemia ; peningkatan kebutuhan metabolisme, seperti kehamilan atau demam dan infeksi; dan perubahan yang mempengaruhi gerakan dinding dada atau system saraf pusat klien.
·        Penurunan kapasitas pembawa oksigen
Hemoglobin membawa 97% oksigen yang telah berdifusi ke jaringan. Setiap proses, yang menurunkan atau mengubah hemoglobin, seperti anemia, dan inhalasi subtansi beracun, menurunkan kapasitas darah yang membawa oksigen.
Anemia ditandai dengan kadar hemoglobin di bawah normal. Anemia adalah suatu kondisi akibat penurunan produksi hemoglobin, peningkatan kerusakan sel darah merah, dan/atau akibat kehilangan darah. Manifestasi klinis kondisi ini meliputi keletihan, penurunan toreransi aktifitas, peningkatan sesak napas, tampak pucat, dan peningkatan frekuensi denyut jantung.
Karbon monoksida merupakan toksik inhalasi yang paling sering dijumpai. Zat ini menurunkan kapasitas darah yang membawa oksigen. Afinitas hemoglobin untuk terikat dengan karbon monoksida 210 kali lebih besar dari afinitasnya untuk terikat dengan oksigen. Kondisi ini menyebabkan anemia fungsional. Kerena kekuatan ikatan yang dimiliki, karbon monoksida tidak mudah berpisah dari hemoglobin, sehingga hemoglobin tidak dapat mentranspor oksigen.
·        Penurunan konsentrasi oksigen yang diinspirasi
Saat konsentrasi oksigen yang diinspirasi menurun, maka kapasitas darah yang membawa oksigen juga menurun. Penurunan fraksi konsentrasi oksigen yang diinspirasi dapat di sebabkan obstruksi jalan nafas bagian atas dan bawah yang membatasi transfor oksigen inspirasi ke alveoli, penurunan oksigen di lingkungan atau oleh penurunan inspirasi akibat konsentrasioksigen yang tidak tepat pada peralatan terapi pernafasan.
·        Hipovolemia
Hipovolemia merupakan suatu kondisi penurunan volume darah sirkuasi yang diakibatkan kehilangan cairan ekstraselular yang terjadi pada kondisi, seperti syok dan dehidrasi berat. Apabila Individu mengalami kehilangan cairan yang bermakna, maka tubuh akan berusaha beradaptasi dengan meningkatkan frekuensi denyut jantung dan melakukan vasokonstriksi perifer untuk meningkatkan volume darah yang kembali ke jantung dan meningkatkan curah jantung.
·        Peningkatan laju metabolism
Peningkatan aktifitas metabolisme tubuh menyebabkan peningkatan kebutuhan kebutuhan oksigen. Saat system tubuh tidak mampu memenuhi peningkatan kebutuhan tubuh ini, maka kadar oksigenasi menurun. Peningkatan laju metabolism merupakan respons normal tubuh pada kehamilan, proses penyembuhan luka, dan latihan fisik karena dalam kondisi-kondisi ini tubuh melakukan pembangunan jaringan. Kebanyakan individu dapat memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat dan tidak memperlihatkan tanda-tanda kekurangan oksigenasi.
·        Kondisi yang mempengaruhi gerakan dinding dada
Setiap kondisi yang menurunkan gerakan dinding dada akan mengakibatkan penurunan gerakan  ventilasi. Apabila diafragma tidak dapat sepenuhnya menurun seiring gerakan napas, maka volume udara yang diinspirasi akan menurun sehingga oksigen yang ditranspor ke alveoli dan sesudah itu ke jaringan akan menurun.

b.      Factor perkembangan
Factor perkembangan klien dan proses penuaan yang normal mempengaruhi oksigennasi jaringan.
·        Bayi prematur
Bayi premature beresiko terkena penyakit membrane hialin, yang diduga disebabkan oleh defisiensi surfaktan. Kemampuan paru untuk mensintesis surfaktan berkembang lambat pada sekitar bulan ketujuh, dan dengan demikian bayi preterm tidak memiliki surfaktan.
·        Bayi dan todler
Bayi dan toddler berisiko mengalami infeksi saluran napas atas sebagai hasil pemaparan yang sering pada anak-anak lain dan pemaparan asap rokok yang di isap orang lain. Selain itu, selama proses pertumbuhan gigi, beberapa bayi berkembang kongesti nasal, yang memungkinkan pertumbuhan bakteri dan meningkatkan potensi terjadinya infeksi saluran pernafasan.
·        Anak usia sekolah dan remaja
Anak usia sekolah dan remaja terpapar pada infeksi pernafasan dan faktoe-faktor risiko pernafasan, misalnya mengisap asap rokok dan merokok. Anak sehat biasanya tidak mengalami efek merugikan akibat infeksi pernafasan. Namun, individu yang mulai merokok pada usia remaja dan meneruskannya sampai usia dewasa pertengahan mengalami peningkatan risiko penyakit kardiopulmonar dan kanker paru.
·        Dewasa mudadan dewasa pertengahan
Individu usia dewasa pertengahan dan dewasa muda terpapar pada banyak factor resiko kardiopulmonar, seperti : diet yang tidak sehat, kurang latihan fisik, obat-obatan dan merokok. Dengan mengurangi factor-faktor yang dapat dimodifikasi ini, akan menurunkan risiko menderita penyakit jantung dan pulmonary.
·        Lansia
System pernafasan dan system jantung mengalami perubahan sepanjang proses penuaan. Pada system arterial, terjadi plak aterosklerosis sehingga tekanan darah sistemik meningkat.
Kompliansi dinding dada menurun pada klien lansia yang berhubungan dengan osteoporosis dan kalsifikasi tulang rawan kosta. Otot-otot pernafasan melemah dan sirkulasi pembuluh darah pulmonary menjadi kurang dapat berdistensi. Trakea dan bronkus besar menjadi membesar akibat kalsifikasi jalan nafas dan alveoli membesar, menurunkan daerah permukaan yang tersedia untuk pertukaran gas.
c.       Factor perilaku
Perilaku atau gaya hidup, baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kemampuan tubuh dalam memenuhi kebutuhan oksigen. Factor-faktor gaya hidup yang mempengaruhi fungsi pernafasan meliputi nutrisi, latihan fisik, merokok, penyalahgunaan substansi, dan ster.
·        Nutrisi
Nutrisi mempengaruhi fungsi kardiopulmonar dalam beberapa cara. Obesitas yang berat menyebabkan penurunan ekspansi paru, dan peningkatan beratbadan meningkatkan kebutuhan oksigen untuk memenuhi kebutuhan metabolism tubuh. Klien yang mengalami kurang gizi mengalami kelemahan oto pernafasan. Kondisi ini menyebabkan kekuatan otot dan kerja pernafasan menurun.
·        Latihan fisik
Latihan fisik meningkatkan aktifitas metabolism tubuh dan kebutuhan oksigen. Frekuensi dan kedalaman pernafasan meningkat, memampukan individu untuk menghirup lebih banyak oksigen dan mengeluarkan kelebihan karbondioksida.
·        Merokok
Merokok dikaitkan dengan sejumlah penyakit, termasuk penyakit jantung, penyakit paru obstruktif kronik, dan kanker paru. Merokok dapat memperburuk  penyakit arteri koroner dan pembuluh darah perifer. Nikotin yang diinhalasi menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan pembuluh darah koronerm meningkatkan tekanan darah dan menurunkan aliran darah ke pembuluh darah perifer. Risoko kanker paru 10 kali lebih kuat pada individu yang merokok daripada individu yang tidak merokok.
·        Penyalahgunaan substansi
Penyalahgunaan alcohol dan obat-obatan lain secara berlebihan akan menggangu oksigenasi jaringan dengan dua cara. Pertama, individu yang kronis menyalahgunakan substansi. Kondisi ini seringkali memiliki asupan nutrisi yang buruk . kondisi menyebabkan penurunan asupan makanan-kaya besi yang kemudian menyebabkan penurunan hemoglobin. Kedua, penggunaan alcohol dan obat-obatan tertentu secara berlebihan. Kondisi ini mendepresi pesat pernafasan, menurunkan frekuensi dan kedalaman pernafasan dan jumlah oksigen yang diinhalasi.

d.      Factor lingkungan
Lingkungan juga mempengaruhi oksigenasi. Insiden penyakit paru lebih tinggi di daerah yang berkabut dan di daerah perkotaan daripada di daerah pedesaan. Selain itu, tempat kerja klien dapat meningkatkan risiko klien untuk terkena penyakit paru. Pollution di tempat kerja mencangkup asbestos, bedak talk, debu, dan serabut yang dibawa oleh udara.



2.4 Perubahan fungsi pernafasan
Perubahan dalam fungsi pernafasan disebabkan penyakit dan kondisi –kondisi yang mempengaruhi ventilasi atau tranfor oksigen. Ketiga perubahan primer tersebut adalah hiperventilasi, hipoventilasi dan hipoksia.
·        Hiperventilasi
Tujuan ventilasi ialah menghasilkan tegangan karbon dioksida di arteri yang normal (PaCO2) dan mempertahankan tegangan oksigen di arteri yang yang normal (PaCO2). Hiperventilasi dan hipoventilsi berkaitan dengan ventilasi alveolar dan bukan berkaitan engan frekuensi pernapasan klien.
Hiperventilasi merupakan suatu kondisi ventilasi yang berlebih, yang dibutuhkan untuk mengeliminasi karbon dioksida normal di vena, yang diproduksi melalui metabolism selular. Hiperventilasi dapat disebabkan oleh ansietas, infeksi, obat-obatan, ketidakseimbangan asam-basa, dan hipoksia yang dikaitkan dengan embolus paru atau syok. Ansietas akut dapat mengarah kepada hiperventilasi dan menyebabkankehilangan kesdaran akibat ekshalasi karbon dioksida yang berlebih.demam menyebabkan hiperventilasi. Untuk setiap peningkatan satu derajat Fahrenheit, terdapat peningkatan kecepatan metabolism sebesar 7%, sehingga menyebabkan peningkatan produksi karbon dioksida. Respons klinis yang dihasilkan ialah peningkatan frekuensi dan kedalaman pernapasan.
Hiperventilasi juga disebabkan kimiawi, keracunan silisilat (aspirin) menyebabkan kelebihan stimulasi pada pusat pernapasan karena tubuh berusaha mengompensasi kelebihan karbon dioksida. Amfetamin juga meningkatkan ventilasi dengan meningkatkan produksi karbondioksida.
Hiperventilasi juga dapat terjadi ketika tubuh berusaha mengompensasi asidosis metabolik dengan memproduksi alkalosis respiratorik. Ventilasi meningkat untuk menurunkan jumlah karbondioksida yang tersedia untuk membentuk asam karbonat.
           Hiperventilasi alveolar menghasilkan banyak tanda dan gejala yang dapat dikaji. Hemoglobin tidak membebaskan oksigen ke jaringan dengan mudah sehingga terjadi hipoksia jaringan. Apabila gejala memburuk, klien menjadi lebih terganggu, yang pada tahap lanjut akan meningkatkan frekuensi pernapasan dan menyebabkan alkalosis repiratorik.


·        Hipoventilasi
Hipoventilasi terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat memenuhi kebutuhan oksigen tubuh atau mengeliminasi karbon dioksida secara adekuat. Apabila ventilasi alveolar menurun, maka PaCO2 akan meningkat. Atelektasis akan menghasilkan hipoventilasi. Atelektasis merupakan kolaps alveoli yang mencegah pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam pernapasan. Karena alveoli kolaps, maka paru yang diventilasi lebih sedikit dan menyebabkan hipoventilasi.
Pada klien yang menderita penyakit obstruksi paru, pemberian oksigen yag berlebihan dapat mengakibatkan hipoventilasi. Klien ini beradaptasi terhadap kadar karbon dioksida yang tinggi dan kemoreseptor yang peka pada karbondioksida pada hakikatnya tidak berfungsi. Klien ini terstimulus untuk bernapas jika PaO2 menurun.
Apabila tidak ditangani, maka kondisi klien akan semakin menurun dengan cepat. Akibatnya, dapat terjadi kebingungan, tidak sadar dan kematian.
·        Hipoksia
Hipoksia adalah oksigenasi jaringan yang tidak adekuat pada tingkat jaringan. Kondisi ini terjadi akibat defisiensi penghantaran oksigen atau penggunaan oksigen di selular. Hipoksia dapat disebabkan oleh (1) penurunan kadar hemoglobin dan penurunan kapasitas darah yang membawa oksigen, (2) penurunan konsentrasi oksigen yang diinspirasi, (3) ketidakmampuan jaringan untuk mengambil oksigen dari darah, seperti yang terjadi pada kasus keracunan sianida, (4) penurunan difusi oksigen dari alveoli kea rah darah, seperti yang terjadi pada kasus pneumonia, (5) perfusi darah yang mengandung oksigen dijaringan yang buruk, seperti yang terjadi pada syok, dan (6) kerusakan ventilasi, seperti yang terjadi pada fraktur iga multiple atau trauma dada.

2.5 proses keperawatan oksigenasi
·        Pengkajian
Pengkajian keperawatan tentang fungsi kardiopulmonar klien harus mencakup data yang dikumpulkan dari sumber-sumber berikut:
1.      Riwayat keperawatan fungsi kardiopulmonar normal klien dan fungsi kardiopulmonal saat ini, kerusakan fungsi sirkulasi dan fungsi pernapasan pada masa lalu, serta tindakan klien yang digunakan untuk mengoptimalkan oksigenasi.
2.      Pemeriksaan fisik status kardiopulmonal klien, termasuk inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
3.      Peninjauan kembali hasil pemeriksaan laboratorium dan hasil pemeriksaan diagnostic, termasuk hitung darah lengkap, elektrokardiogram (EKG), dan pemeriksaan fungsi pulmonary, sputum, dan oksigenasi, seperti artei gas darahatau oksimetri nadi
ü      Riwayat keperawatan
Riwayat keperawatan harus berfokus pada kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan oksigen. Riwayat keperawatan untuk mengkaji fungsi jantung meliputi nyeri dan karakteristik nyeri, dispnea, keletihan, sirkulasi perifer, factor risiko penyakit jantung, dan adanya kondisi-kondisijantung yang menyertai. Riwayat keperawatan tentang fungsi jantung meliputi pegkajianadanya batuk, sesak napas, mengi, nyeri, pemaparan lingkungan, frekuensi infeksi saluran pernapasan yang lalu, penggunaan obat-obatan saat ini, dan riwayat merokok atau terpapar asap rokok.
ü      Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengkaji tingkat oksigenasi jaringan klien yang meliputi evaluasi keseluruhan system kardiopulmonar. Teknik inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi digunakan dalampemeriksaan fisik ini.
ü      Pemeriksaan diagnostic
Pemeriksaan untuk menentukan keadekuatan system konduksi jantung. Pemeriksaan yang di lakukan untuk menentukan konduksi jantung mencakup pemeriksaan dengan menggunakan elektrokardiogram, monitor Holter, pemeriksaan ster latihan, dan pemeriksaan elektrofisiologi.

·        Diagnosa keperawatan
Klien yang mengalami perubahan tingkat oksigenasi dapat memiliki diagnose keperawatan yang awalnya dari kardiovaskular atau pulmoner. Setiap diagnose keperawatan harus didasarkan pada batasan karakteristik dan melibatkan etiologi terkait.

·        Perencanaan
Klien yang mengalami kerusakan oksigenasi membutuhkan rencana asuhan keperawatan yang dutujukan untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi actual dan potensial klien. Sasaran individual berasal dari kebutuhan yang berpusat pada klien. Perawat mengidentifikasikan hasil akhir khusus dari asuhan keperawatan yang diberikan. Rencana tersebut meliputi satu atau lebih sasaran yang berpusat- pada lien berikut ini.
1.      Klien mempertahankan kepatenan jalan napas
2.      Klien mempertahankan dan meningkatkan ekspansi paru
3.      Klien mengeluarkan sekresi paru
4.      Klien mencapai peningkatan toleransi aktivitas
5.      Oksigenasi jaringan dipertahankan atau ditingkatkan,
6.      Fungsi kardiopulmonar klien diperbaiki dan dipertahankan
Tingkat kesehatan klien, usia, gaya hidup, dan risiko lingkungan mempengaruhi tingkat oksigenasi jaringan. Klien yang mengalami kerusakan oksigenasi yang berat acap kali membutuhkan intervensi keperawatan yang ditujukan untuk mencapai keenam sasaran tersebut.

·        Implementasi
Intervensi keperawatan untuk meningkatkan dan mempertahankan oksigenasi tercakup dalam dominan keperawatan: pemberian dan pemantauan intervensi dan program yang terapeutik. Hal ini meliputi tindakan keperawatan mandiri, seperti perilaku peningkatan kesehatan dan upaya pencegahan, pengaturan posisi, teknik batuk, dan intervensi mandiri atau intervensi tidak mandiri, seperti terapi oksigen, teknik inflasi paru, hidrasi, fisioterapi dada, dan abat-obatan.

·        Evaluasi
Intervensi dan terapi keperawatan dievaluasi dengan membandingkan kemajuan pencapaian klien terhadap tujuan intervensi dan hasil akhir yang diharapkan dari rencana asuhan keperawatan. Setiap tujuan dan kategori intervensi memiliki criteria evaluasi.
Apabila tindakan keperawatan yang dilakukan untuk meningkatkan oksigenasi tidak berasil, maka perawat harus segera memodifikasi rencana asuhan keperawatan. Intervensi yang baru kemudian dikembangkan. Perawat tidak perlu ragu untuk member tahu dokter tentang status oksigenasi klien yang memburuk. Pemberitahuan yang cepat dapat menghindari situasi kedaruratan atau bahkan menghindari perlunya resusutasi jantung paru.


BAB III
PENUTUP



3.1  Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan yaitu fungsi sistem jantung ialah mengantarkan oksigen, nutrien, dan substansi lain ke jaringan dan membuang produk sisa metabolisme melalui pompa jantung, sistem vaskular, dan integrasi sistem lainnya. Sedangkan sistem konduksi jantung menggerakan potensi kerja yang dibutuhkan yang mengonduksi impuls yang dibutuhkan untuk memulai rangkaian peristiwa listrik. Ada tiga langkah dalam proses oksigenasi, yaitu : ventilasi, perfusi, pertukaran gas pernapasan. Dan ada tiga perubahan fungsi pernapasan, yaitu : hiperventilasi, hipoventilasi, hipoksia

3.2  Saran